Selasa, 09 Juni 2009

AKHLAK

Hadirin Rahimakulullah

Di zaman modern, bangsa kita sedang mengalami krisis moral, dan krisis moral inilah yang menjadi penyebab utama ketidakmenentuan bangsa ini. Jika krisis moral ini kita biarkan, maka kemungkinan besar bangsa ini akan hancur masa depannya. Praktik hidup yang menyimpang dan penyalahgunaan kesempatan atau kedudukan yang merugikan orang lain seperti KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), penodongan, perampokan dsb, akan kian tumbuh subur di negeri kita yang sungguh pelakunya tidak berakhlakul karimah.

Berbicara tentang akhlak, maka misi Nabi Muhammad SAW hadir kedunia ini adalah untuk menyempurnakan manusia sejarhmencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau, antara lain, karena mempunyai akhlak yang mulia. Dalam soal akhlak, Nabi Muhammad layak dijadikan teladan. Bahkan Allah SWT memuji akhlak mulia Nabi Muhammad dalam firman-Nya surat al-Qalam ayat 4 )

4. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Lalu apa itu akhlak?. Ahklak menurut Al-Ghazali ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat memunculkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran. Dan adapun akhlak islami adalah dapat diatikan sebagai akhlak yang berdasarkan ajaran islam atau akhlak yang bersifat islami menghormati orang tua misalnya bagi orang Sumatra adalah dengan hidup bersama, bagi orang jawa dengan cara sungkem dan bagi orang sunda dengan cara cium tangan.

Akhlak dalam realita sehari-hari terdapat akhlak yang baik (akhlak al karimah) dan akhlak buruk (akhlak al mazmumah). Akhlak yang baik adalah perilaku yang sesuai dengan norma ajaran islam sperti jujur, disipln, taat beribadah patuh terhadap orang tua sopan santun, istiqamah, amanah dll. Sedangkan akhlak yang buruk adalah perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran islam, seperti kikir, ngegosip, bermaksiat, judi dll.

Hadirin Rahimakulullah

Akhlak berkaitan dengan hubungan baik antara manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta.

1. Hubungan baik antara manusia dengan Allah.

Akhlak terhadap Allah dilakukan dengan cara berhubungan dengan Allah melalui media-media yang telah disediakan Allah, yaitu ibadah yang langsung kepada Allah seperti salat, puasa, dan haji. Pelaksanaan ibadah-ibadah itu secara benar menurut ketentuan syariat serta dilakukan dengan ikhlas mengharap ridha Allah Swt, merupakan bentuk akhlak yang baik terhadap-Nya.

Berakhlak kepada Allah diajarkan pula oleh Rasul dengan bertahmid, takbir, tasbih, dan tahlil.

Tahmid adalah membaca hamdalah, yaitu alhamdu lillahi rabbil ‘alamin (segala puji bagi Allah yang menguasai seluruh alam). Membaca hamdalah merupakan tanda terima kasih kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan-Nya.

Takbir adalah mengucapkan Allahu Akbar (allah maha Agung). Membaca takbir merupakan ungkapan pengakuan akan kemahabesaran Allah yang tiada taranya.

Tasbih adalah membaca subhanallah (maha suci Allah). Membaca tasbih sebagai ungkapan kekaguman atas kekuasan allah yang tak terbatas yang ditampakan dalam seluruh ciptaan-Nya.

Tahlil adalah membaca la ilaaha illal llahu (Tidak ada tuhan selain Allah), Suatu ungkapan pengakuan dan janji seorang muslim yang hanya mengakui allah sebagai satu-satunya Tuhan.

Berakhlak terhadap Allah diungkapkan pula melalui berdo’a. berdo’a adalah meminta apa yang diinginkan dan dicita-citakan kepada-Nya. Berdo’a merupakan bukti ketakberdayaan manusia dihadapan Allah, karena itu orang tidak pernah berdo’a dipandang sebagai orang yang sombong.

2. Akhlak terhadap sesama manusia

Berakhlak kepada sesama manusia adalah bergaul dan berbuat baik kepada orang lain. Islam mengajarkan untuk berbuat baik kepada orang lain, dimulai kepada keluarga sendiri, terutama ibu dan bapak. Seperti menghormati perbedaan antar sasama umat, menghormati agama lain, memaafakan kesalahan orang lain, saling tolong menolong sesama manusia meskipun ia berasal dari daerah lain. Firman Allah dalam surat Ali-Imran ayat 134

134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan yang ke tiga

3. Akhlak terhadap lingkungan hidup

Manusia merupakan bagian dari alam dan lingkungan, karena itu umat islam diperintahkan untuk menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan hidupnya. Sebagai makhluk yang ditugaskan sebagai khalifatullah fil ardh, manusia dituntut untuk memelihara dan menjaga lingkungan hidupnya. Karena itu, berakhlak terhadap lingkungan hidup sangat dianjurkan dalam ajaran islam. Beberapa perilaku yang menggambarkan akhlak yang baik terhadap lingkungan antara lain, memelihara dan menjaga lngkungan agar tetap bersih dan sehat, menghindari pekerjaan yang menimbulkan kerusakan lingkungan.

Hadirin Rahimakulullah

Rasulullah sebagai tauladan akhlak mulia, beliau memberikan contoh akhlak yang sangat luar biasa dan pantas bahkan harus kita tiru. Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat128

128. Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Hadirin Rahimakulullah

Pada usia 12 tahun, Muhammad diajak oleh pamannya berdagang ke syiria yang berjarak ribuan kilometer dari kota makkah. Perjalanan yang begitu jauh ditempuh oleh seorang anak berusia 12 tahun tanpa menggunakan mobil ataupun pesawat sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang. Sepulang dari Syiria, Muhammad sangat sering mengadakan perdagangan sampai beliau dikenal di Jazirah arab sebagai seorang pengusaha muda yang sukses. Kesuksesan beliau disebabkan karena terpancarnya nilai-nilai kepribadian atau sifat-sifat mulia dari dalam dirinya, sehingga siapapun yang melihat atau berinteraksi dengan beliau selalu terkagum-kagum dan terpesona dengan indahnya akhlak beliau. Ketika diangkat menjadi Nabi dan beliau melakukan aktivitas dakwah banyak orang masuk islam yang pada awal mulanya dikarenakan terpesona dengan akhlak Muhammad yang begitu mulia.

Singkatnya beliau adalah sosok pribadi unggul yang sudah terlatih sejak kecil, sebagai contoh dalam kegiatan wirausaha atau kegiatan ekonomi rasulullah adalah suritauladan wirausaha sejati, bagi kita sebagai umatnya terdapat beberapa nilai dasar kunci sukses Rasulullah saw selain sifat wajib dan mustahil beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul yang sudah disampaikan pada pembahasan sebelumnya, nilai-nilai dasar tersebut diantaranya:

1. Kesungguhan

Rasulullah adalah sosok pribadi yang penuh kesungguhan dalam berbagai aspek kehidupan, tidak ada satu amalpun yang tidak dikerjakan tanpa kesungguhan, kualitas yang unggul hanyalah akan lahir dari sebuah kesungguhan. Berusaha sekuat tenaga untuk bekerja keras, menyempurnakan dzikir, fikir, dan ikhtiar yang bisa kita lakukan, berusaha dengan sungguh-sungguh dalam setiap perencanaan sebab ketika kita gagal dalam berencana berarti kita sedang merencanakan kegagalan, sekecil apapun yang kita lakukan harus dengan penuh kesungguhan karena yang kecil dapat membentuk kesempurnaan walaupun kesempurnaan bukan sesuatu yang kecil.

2. Kejujuran

Rasulullah saw sebelum menjadi Nabi diberi gelar Al Amin (orang yang dapat dipercaya/terpercaya) kejujuran pribadinya dikenal oleh seluruh penduduk Mekah dan inilah investasi besar dari pribadi Rasul saw dalam meraih kesuksesan, kejujuran, adalah mata uang yang berharga dan berlaku diseluruh dunia, tidak jujur rizkinya dari Allah jujurpun dari Allah, Janganlah kita takut tidak dapat rizki dari Allah, sebab setiap yang hidup sudah Allah jamin rizkinya, Allah swt berfirman: “Dan tidaklah binatang yang melata dimuka bumi itu kecuali oleh Allah rizkinya”.

Takutlah ketika tidak jujur dalam mencari dan mendapatkan rizki oleh karena itu kalau kita orientasinya hanya materi maka pencuri, koruptor, penipu, dan orang-orang jahat mungkin dari sisi materi melebihi kita, lalu apa bedanya kita dengan mereka kalaulah kita melakukan hal-hal yang tidak jujur.

Kalaulah kita melakukan sesuatu tidak jujur kemudian mujur serta berhasil, janganlah bernggapan semua itu karena kepandaian dan kecerdikan kita, tetapi yakinlah bahwa karena Allah yang Maha Melihat masih menutupi kejelekan kita, Dalam dunia wirausaha modern saling percaya dan saling jujur adalah modal utama eksisitensi dan kontinuitas usaha yang kita lakukan.

Rasulullah senantiasa merendahkan diri dan berdoa dengan sepenuh hati. Beliaau selalu memohon kepada Allah agar menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak yang mulia.

Rabu, 03 Juni 2009



MEMAHAMI MAKNA DAKWAH,
AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNKAR
Firman Allah:
“Dan hendaklah ada diantara kamu satu golongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung” (QS.Ali Imran [3] ayat 104).

Seputar Makna Dakwah, Amar Ma’ruf, dan Nahi Munkar
Sebelum seseorang memutuskan terjun ke dunia dakwah, sepatutnya dia berusaha memahami dengan benar terlebih dahulu sedikitnya lima kata kunci (key word) yaitu makna dakwah, amar ma’ruf, nahi munkar, tabligh, serta makna muballigh dan muballighah. Dalam tulisan pertama ini, akan difokuskan terlebih dahulu untuk membahas tiga kata kunci yaitu dakwah, amar ma’ruf, nahi munkar. Dalam tulisan selanjutnya, insya Allah akan kita bahas tentang makna , tabligh, serta makna muballigh dan muballighah.
Ditinjau dari segi bahasa, dakwah berasal dari kata da’â–yad’û–da’watan, yang berarti mengajak, menyeru, memanggil, mengundang, memohon (kamus al-Tanwîr hal. 438; mufradat al-alfad al-Quran hal.315). Secara terminologis, yang dimaksud dengan dakwah adalah mengajak, menyeru, memanggil, mengundang, dan mempengaruhi, serta melakukan hal-hal lain yang ada hubungan dengan maksud-maksud tersebut dengan tujuan untuk melakukan perubahan. Dalam arti merubah tata nilai (core values); merubah keadaan yang buruk menjadi baik; merubah suatu keadaan yang kurang baik kepada keadaan yang lebih baik; merubah keadaan yang pakum atau beku (jumud/ stagnan) kepada keadaan yang tercerahkan dan dinamis. Perubahan yang dimaksud sedikitnya diarahkan pada tiga hal, yaitu merubah pola keyakinan (aqidah), merubah pola pikir (fikrah), dan merubah pola hidup (harakah). Salah satu target perubahan yang diharapkan yaitu terciptanya suatu kehidupan yang istilahkan oleh Al-Quran dengan kata al-Khair (QS.3:104). Apa yang dimaksud dengan al-Khair?
Menurut Prof.DR. Wahbah al-Zuhayli, yang dimaksud dengan al-Khair adalah sesuatu yang di dalamnya terdapat manfaat dan kebaikan bagi umat manusia baik yang berhubungan dengan masalah agama maupun dunia (Tafsir al-Munîr IV hal.32). Sedangkan menurut Prof.DR.HM.Quraish Shihab, al-Khair adalah nilai universal yang diajarkan oleh Al-Quran dan as-Sunnah. M.Quraish Shihab memaknai demikian, karena merujuk kepada hadis Rasulullah SAW. seperti dikemukakan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Tafsirnya yang berbunyi ittibâ’u al-Quran wa sunnatî– “mengikuti Al-Quran dan sunnahku.” (Tafsir al-Misbãh Vol.2 hal.164) Mengacu kepada kedua definisi tersebut, kita dapat memahami bahwa perubahan yang dikehendaki dalam dakwah Islam menuju kepada perubahan tata nilai yang bersifat universal yang terefleksikan dalam pelbagai segi kehidupan umat manusia. Tata nilai tertinggi dalam Islam adalah ajaran Tauhid. Itulah agaknya yang menjadi dasar pemikiran sehingga al-Baghawi memahami kata al-Khair tersebut dengan al-aqîdah al-Islâmiah.
Dengan demikian, secara praktis, sasaran utama dakwah Islam lebih ditekankan kepada upaya merubah keyakinan umat manusia, yang semula banyak dijiwai dan dipengarungi oleh kemusyrikan dan kemunafikan, agar benar-benar kembali kepada ajaran tauhid yang murni, serta dikondisikan sedemikian rupa agar secara praktis, mereka mampu mentranspormasikan nilai-nilai ajaran tauhid dalam dinamika kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, penekanan dakwah Islam lebih diarahkan kepada upaya pelurusan dan penataan ulang (recovery) teologi (aqidah) Islam, serta berupaya memproteksi mereka dari segala bentuk kemusyrikan dan pelbagai fenomena kehidupan yang ditimbulkannya. Ini, merupakan program utama dari misi kenabian, termasuk misi kenabian Rasulullah SAW. (lihat QS. Al-Fath [48] ayat 8). Namun demikian, pendekatan dan tata cara penyampaiannya, sedapat mungkin disampaikan secara persuasif dan elegan, yakni dengan cara-cara yang lebih bersifat memberikan pencerahan dan menawarkan solusi kehidupan. Paling tidak, hindari cara-cara yang kasar, kaku, rigid dan picik, yang menimbulkan kesan pemaksaan, yang pada akhirnya akan menimbulkan kesan negatif terhadap citra Islam sebagai rahmatan lil’âlamîn. Firman Allah:
“Serulah ke jalan Tuhan-mu dengan cara-cara yang bijaksana, nasehat (yang menyentuh hati) serta berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.”(QS.16:125).
Akhirnya, muncul sebuah pertanyaan, dari mana kita harus memulai perubahan? Sudah barang tentu, harus dimulai dari diri sendiri, lalu keluarga, masyarakat sekitar kita, kemudian bangsa dan negara. Orang-orang bijak mengatakan: “Sebuah bangsa akan berubah jika dimulai dari perubahan semua komponen masyarakat yang ada pada bangsa itu, sebuah masyarakat akan berubah apabila dimulai dari perubahan keluarga yang ada pada masyarakat itu, sebuah keluarga akan berubah apabila dimulai dari perubahan individu-individu yang ada pada keluarga itu, setiap individu akan berubah apabila dimulai dari perubahan yang ada pada diri individu-individu tersebut; yaitu merubah keyakinannya, pola pikirnya, dan pola hidupnya; baik secara konservatif maupun secara inovatif. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mau merubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri…dst. (QS.13:11).
Dan firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tidak akan mampu memadharatkan kamu orang-orang yang sesat itu, jika kamu telah mendapatkan petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu lakukan” (QS.5:105).

Makna Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
Setelah kita mulai memahami konsepsi dakwah dan memahami arah serta kiprah perjuangannya, selanjutnya mari kita pahami tentang makna amar ma’ruf dan nahi mungkar. Dengan memahami kedua istilah tersebut, kita dapat memperoleh gambaran di mana letak persamaannya dan di mana letak perbedaannya, sehingga kita dapat mensinergikan ketiga konsep tersebut. Setidaknya, kita tidak mengulangi kesalahpahaman dan tidak mengulangi kesalahan dalam mengaplikasikannya.
Ditinjau dari segi bahasa, amar berasal dari kata amara-ya’muru-amran, yang berarti perintah atau suruhan. Pemegang perintah atau pemerintah atau penentu kebijakan, dalam bahasa Arab, disebut âmir. Para ulama ushul fiqh, secara filosofis mendefinisikan kata amar dengan pemaknaan thalab al-fi’li min al-a’lâ ilâ al-adnâ, artinya “Tuntutan agar mengerjakan suatu perbuatan yang datang dari atas (atasan) yang ditujukan kepada bawahan. Karena itu, secara filosofi kebahasaan, amar itu lebih bersifat instruksi atau top down. Adapun ma’ruf, secara bahasa, berasal dari ‘arafa-ya’rifu-irfânan/ ma’rifatan-‘ârifun-ma’rûfun. Secara morfologis, kata ma’ruf merupakan bentuk kata benda yang suka dijadikan sebagai objek pembicaraan (isim maf’ûl), yang secara harfiah berarti sesuatu yang patut diketahui secara baik dan benar. Para ulama, seperti Prof.DR.Wahbah al-Zuhayli, mendefinisikan kata ma’ruf, sebagai sesuatu yang dinilai baik oleh syara’ (agama) dan akal sehat (Tafsir al-Munîr IV hal.32). Sementara ulama dan cendikian muslim lain menambahkan, bahwa sesuatu dikatakan ma’ruf selain dinilai baik oleh syara dan akal sehat, juga dinilai baik oleh adat, kultur, atau budaya, yang dalam bahasa Arab disebut ‘urf. Jadi, sesuatu dapat dikatakan ma’ruf apabila telah dinilai baik, sedikitnya oleh tiga standar nilai, syara, akal sehat, dan kultur atau budaya setempat.
Dari pengertian tersebut, kita dapat memahami bahwa amar ma’ruf memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Lebih bersifat praktis, yaitu berupa perintah, suruhan, atau anjuran.
2. Materi yang disampaikannya bersifat bebas tapi terbatas, yakni tentang apa saja yang berhubungan dengan kebaikan umat manusia, asalkan dinilai baik oleh syara atau syariat Islam, dinilai baik oleh akal sehat (common sense), dan dinilai baik oleh kultur atau budaya setempat;
3. Dilakukan secara ‘arif, dalam arti disampaikan melalui tata cata atau metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang dihadapi;
4. Bersifat pleksibel, dalam arti pendekatan, metode, media, dan hal-hal lain yang bersifat teknis, selalu mempertimbangkan dan memanfaatkan potensi kultur atau budaya setempat. Jadi, secara teknis metodologis, amar ma’ruf membuka peluang yang seluas-luas untuk memanfaatkan potensi kultur dan budaya. Itulah barangkali sehingga secara historis, konon para wali songo dahulu, mereka berdakwah dengan menggunakan media seni dan budaya;
5. Sasaran wilayah pembinaannya lebih diarahkan kepada interen umat Islam, yakni untuk peningkatan kualitas umat Islam;
6. Cenderung bersifat aktif, kreatif, dan inovatif.
Dengan demikian, kalau dikaitkan dengan konsepsi dakwah, amar ma’ruf dapat disebut sebagai dakwah internal. Lalu apa yang dimaksud dengan nahi mungkar?
Secara sederhana, nahi mungkar dapat dipahami sebagai kebalikan dari amar ma’ruf. Dalam arti, kalau amar ma’ruf bersifat memerintah, menyuruh, atau menganjurkan, sedangkan nahi mungkar bersifat melarang, mencegah, dan memproteksi. Secara bahasa, nahi berasal dari kata nahâ-yanhâ-nahyan berarti melarang/larangan atau mencegah/cegahan. Apa yang harus dicegah? Yaitu mungkar atau kemungkaran. Apa yang dimaksud mungkar? Mungkar adalah kebalikan dari ma’ruf. Kalau ma’ruf sesuatu yang dinilai baik, maka mungkar sesuatu yang dinilai buruk, yaitu dinilai buruk oleh syara/syariat (hukum-hukum agama), dinilai buruk oleh akal sehat, dan dinilai buruk oleh kultur dan budaya masyarakat setempat.
Dengan demikian, kalau kita jabarkan, nahi mungkar juga memiliki banyak indikator yang relatif sama dengan amar ma’ruf. Hanya saja, dalam teknis pelaksanaannya relatif bersifat kebalikan dari ma’ruf misalnya:
1. Bersifat praktis, yaitu berupa larangan atau cegahan;
2. Bebas tapi terbatas, yaitu menganut prinsip, “semua boleh dilakukan kecuali apabila dilarang oleh syara/ syariat Islam, akal sehat, dan kultur serta budaya setempat;
3. Sedapat mungkin dilakukan secara baik, dalam arti tetap mengindahkan kaidah hukum, moral, etika yang berlaku, dan dilakukan secara bertahap;
4. Cenderung bersifat kaku, kontraproduktif, dan kurang disukai oleh terutama oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan kemungkaran. Karena itu, tantangan relatif lebih berat;
5. Sasaran wilayah pembinaannya lebih diarahkan kepada interen umat Islam, tetapi lebih bersifat melindungi;
6. Cenderung bersifat fasif dan konservatif.
Demikian, Wallahu a’lam []

Istiqomahlah !!!

*dikutip dari : Embun Taushiyah - 17 April 2004 (Sumber : http://www.perpustakaan-islam.com/artikel.

Sesungguhnya Iman itu senantiasa bertambah dan berkurang. Dan ketika iman kita berkurang, kita mudah untuk menyimpang dari Shiratal Mustaqim, sehingga Rasulullah menyatakan : “Sesunguhnya setiap amalan itu ada masa semangatnya dan setiap masa semangat itu pasti ada masa jenuhnya. Barang siapa yang masa kejenuhannya ia kembali kepada sunnahku maka telah mendapat petunjuk, barang siapa yang masa jenuhnya menyebabkan ia berpaling dari sunnahku maka telah binasa.”

Oleh sebab itu hendaknya kita menjaga diri kita dari kebinasaan. Ketahuilah bahwa musuh-musuh Islam dan musuh Ahlus Sunnah senantiasa berusaha untuk menggelincirkan kita dari Al-Haq, mereka senantiasa mengintai dan mencari kesempatan untuk menggoda dan menyesatkan kita. Tidakkah kalian ingat kisah Ka’ab bin Malik Radhiallaahu’anhu yang diboikot oleh Rasulullaah dan Sahabatnya. Beliau digoda oleh musuh Rasulullah, Raja Ghasan. Ia dikirimi sebuah risalah oleh Raja Ghasan : “telah sampai kepadaku bahwa sahabatmu telah bersikap keras terhadapmu….., marilah bergabung bersama kami, kami akan memberikan keluasan kepadamu.”

Lihatlah bagaimana seorang sahabat yang mulia digoda untuk digelincirkan dari Shiratal Mustaqim. Oleh sebab itu marilah kita jaga diri kita dari godaan Syetan dengan menghadiri majelis-majelis ilmu.

Ketahuilah diantara sebab bertambahnya Iman adalah dengan mendatangi majelis ilmu dan berkumpul dengan orang shalih. Dan diantara sebab turunnya iman dan sesatnya seseorang adalah ketika ia menjauhi majelis ilmu dan menjauh dari Ahlus Sunnah. Allah berfirman dalam surat Al-Hadiid; 16 yang artinya: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Handzalah Radhiallaahu ‘anhu pernah ditanya oleh Rasulullah, “Bagaimana kabarmu ?” Handzalah menjawab,”….Wahai Rasulullah apabila kami di majelismu sepertinya kami melihat surga dan neraka dengan mata kepala sendiri, tapi bila kami kembali ke rumah, kami terlalaikan oleh keluarga dan urusan dunia kami,…..” Hadist ini sangat jelas menerangkan bahwa menghadiri majelis ilmu adalah penambah iman dan benteng bagi diri kita dari kesesatan.

Oleh karena itu, marilah kita tambah iman kita dengan menghadiri majelis ‘ilmu dengan ikhlash, dengan harapan mudah-mudahan akan menambah iman dan membentengi diri kita dari kesesatan.

Rabu, 13 Mei 2009